Minggu, 23 September 2012

Wishing a fallen star



Assalamualaikum

Sebenernya aku ga ingin tulis curhatan tentang ini. Karena aku pun sama sekali ga pernah ungkapin ke orang lain. Kecuali suami aku, itupun udah lama banget karena aku ingin dia berhenti khawatir dan aku ga ingin dia tahu kalo aku sering galau. Tapi somehow aku ga pengen pendam ini sendirian. So I decide to blow up 'kegalauan' aku disini. :(

Wishing fallen star.., yup it means expecting a miracle to happen. It's a miracle when we want something soooo bad, hoping but still out of our sight. Kinda melancholistic., atleast this is how I feel right now.

I had a moment when I feel really down. It's clueless, desperate, it's a lot of tears, it's broken hearted, it's really pain in the as*. (just saying). There's a moment I felt really tired with everything that I've done. I felt that I put my effort on this together with my hubby. But then again it's a failure.

That sensitiveness just come and go during all this years. Yes, I'm married for about 19 months now. Happy?? Yes I'm happy.Alhamdulillah. My other half is everything I need. He's caring, responsible, determined, family man, mature and funny person. I love him. But everytime I looked at him, it's kinda tear me down. There's always one thing came through my mind. A baby. I want it and I know my hubby desperately want it too even he never say that to me.

Tahun pertama memang berat. Memikirkannya pun sedih. Setiap dinanti kali itu juga belum diberi rezeki. Rasanya seperti 'kenapa??'. Saat itu cuma bisa menangis ke suami. Suami awalnya hanya menenangkan, memeluk, menegarkan dan melimpahiku dengan do'a. Tapi ada satu moment aku menangis, kulihat dia menangis juga. Ya Allah aku merasa telah menambah beban yang berat ke pundak suamiku. Rasanya ingin kuucap maaf tapi sulit.

Merenung berkali-kali bagaimana caranya agar bisa belajar pasrah, ikhlas, husnuzhan dengan ketentuan Allah SWT. Tapi lagi-lagi dihadapkan dengan lingkungan yang *maaf* kurang dalam bahasa. Kalo cuma 'belum isi ya??' Atau 'cobain program' mah itu sih lumayan comforting sound ya. Tapi ini, kadang sering bikin jengah juga. Dan aku masih dikasih sabar tanggepinnya. Aku paling senyum Atau bilang amin. Padahal sampai ke rumah, ya nangis lagi. Jangankan dari omongan orang lain ya, ini sering juga pikiran sendiri yang bikin desperate. Misalnya temen yang nikahnya duluan aku tapi hamilnya Mereka yang duluan. Perasaan aku saat itu memang belum seluas sekarang. Jadi jujur itu lumayan bikin broken heart, ngiri dan lagi-lagi down.

Kadang kalo sekiranya ga terlalu kuat ya aku bilang sama ibuku. And just like a breeze. Ibuku saat itu bilang 'itu sudah rezekinya, rezekimu belum turun. Allah tau waktu yang pas, sabar jangan terus-terusan bikin suamimu sedih'.

Tapi Alhamdulillah mungkin karena kelelahan dan bosan akhirnya hatiku bisa luas memandang ini. Akhirnya aku bisa tulus ikut bahagia dengar kabar bahagia, aku bisa senyum ikhlas dengan ocehan dari samping kiri kanan. Aku hanya merasa hidup aku sedikit lebih optimis lagi. Suami ga pernah berhenti bilang 'ayo berdoa bareng, tingkatin ibadahnya, dan ayo hidup lebih bahagia lagi., kalo masih gagal, mungkin anak yang ini ga sholeh nantinya,makanya keluar lagi. Allah lagi siapin anak yang sholeh sholehah sehat pintar cantik tampan buat kita, nanti di waktu yang benar-benar tepat,. Insyaallah'. Oo I've cried while he was saying this. Even I write it down right now,. It's tearing me. :').

Aku hanya berharap, Ya Allah, kesulitan ini, cobaan ini kau berikan pada kami, kumohon berikan pula dengan kesabaran pada kami. Biarkan kami menghadapi masa-masa sulit ini dengan keimanan padaMu. Sampai saat bahagia itu tiba. Saat Kau percayakan titipanMu yang berharga pada kami, kumohon berkahilah keluarga kecil kami dengan rahmat hidayah Mu selama kami hidup. Berkahilah putra putri kami kelak. Kuatkan lah iman islamnya. Sehatkanlah jasmani dan rohaninya. Pintarkanlah mereka menggunakan ilmunya. Jadikanlah mereka anak-anak yang berbakti pada orang tuanya, berguna untuk agamanya, negaranya dan orang disekelilingnya. Amiiinn Allohuma Amiiinn.

Untuk anugerah terindah milik Allah
'Nak, aku tahu kau belum diberikan izin dari Allah untuk turun ke rahimku. Aku percaya suatu saat Kau akan memenuhi takdirmu menjadi buah cinta aku dan ayahmu kelak. Jangan khawatir, ayahmu sangat menyayangiku, sangat mencintaiku. Bila kau ada, dia akan menyayangi dan mencintaimu juga. We're missing u, baby A.'