Assalamualaikum
Sebenernya aku ga ingin tulis curhatan
tentang ini. Karena aku pun sama sekali ga pernah ungkapin ke orang
lain. Kecuali suami aku, itupun udah lama banget karena aku ingin dia
berhenti khawatir dan aku ga ingin dia tahu kalo aku sering galau.
Tapi somehow aku ga pengen pendam ini sendirian. So I decide to blow
up 'kegalauan' aku disini. :(
Wishing fallen star.., yup it means
expecting a miracle to happen. It's a miracle when we want something
soooo bad, hoping but still out of our sight. Kinda melancholistic.,
atleast this is how I feel right now.
I had a moment when I feel really down.
It's clueless, desperate, it's a lot of tears, it's broken hearted,
it's really pain in the as*. (just saying). There's a moment I felt
really tired with everything that I've done. I felt that I put my
effort on this together with my hubby. But then again it's a failure.
That sensitiveness just come and go
during all this years. Yes, I'm married for about 19 months now.
Happy?? Yes I'm happy.Alhamdulillah. My other half is everything I
need. He's caring, responsible, determined, family man, mature and
funny person. I love him. But everytime I looked at him, it's kinda
tear me down. There's always one thing came through my mind. A baby.
I want it and I know my hubby desperately want it too even he never
say that to me.
Tahun pertama memang berat.
Memikirkannya pun sedih. Setiap dinanti kali itu juga belum diberi
rezeki. Rasanya seperti 'kenapa??'. Saat itu cuma bisa menangis ke
suami. Suami awalnya hanya menenangkan, memeluk, menegarkan dan
melimpahiku dengan do'a. Tapi ada satu moment aku menangis, kulihat
dia menangis juga. Ya Allah aku merasa telah menambah beban yang
berat ke pundak suamiku. Rasanya ingin kuucap maaf tapi sulit.
Merenung berkali-kali bagaimana caranya
agar bisa belajar pasrah, ikhlas, husnuzhan dengan ketentuan Allah
SWT. Tapi lagi-lagi dihadapkan dengan lingkungan yang *maaf* kurang
dalam bahasa. Kalo cuma 'belum isi ya??' Atau 'cobain program' mah
itu sih lumayan comforting sound ya. Tapi ini, kadang sering bikin
jengah juga. Dan aku masih dikasih sabar tanggepinnya. Aku paling
senyum Atau bilang amin. Padahal sampai ke rumah, ya nangis lagi.
Jangankan dari omongan orang lain ya, ini sering juga pikiran sendiri
yang bikin desperate. Misalnya temen yang nikahnya duluan aku tapi
hamilnya Mereka yang duluan. Perasaan aku saat itu memang belum
seluas sekarang. Jadi jujur itu lumayan bikin broken heart, ngiri dan
lagi-lagi down.
Kadang kalo sekiranya ga terlalu kuat
ya aku bilang sama ibuku. And just like a breeze. Ibuku saat itu
bilang 'itu sudah rezekinya, rezekimu belum turun. Allah tau waktu
yang pas, sabar jangan terus-terusan bikin suamimu sedih'.
Tapi Alhamdulillah mungkin karena
kelelahan dan bosan akhirnya hatiku bisa luas memandang ini. Akhirnya
aku bisa tulus ikut bahagia dengar kabar bahagia, aku bisa senyum
ikhlas dengan ocehan dari samping kiri kanan. Aku hanya merasa hidup
aku sedikit lebih optimis lagi. Suami ga pernah berhenti bilang 'ayo
berdoa bareng, tingkatin ibadahnya, dan ayo hidup lebih bahagia
lagi., kalo masih gagal, mungkin anak yang ini ga sholeh
nantinya,makanya keluar lagi. Allah lagi siapin anak yang sholeh
sholehah sehat pintar cantik tampan buat kita, nanti di waktu yang
benar-benar tepat,. Insyaallah'. Oo I've cried while he was saying
this. Even I write it down right now,. It's tearing me. :').
Aku hanya berharap, Ya Allah, kesulitan
ini, cobaan ini kau berikan pada kami, kumohon berikan pula dengan
kesabaran pada kami. Biarkan kami menghadapi masa-masa sulit ini
dengan keimanan padaMu. Sampai saat bahagia itu tiba. Saat Kau
percayakan titipanMu yang berharga pada kami, kumohon berkahilah
keluarga kecil kami dengan rahmat hidayah Mu selama kami hidup.
Berkahilah putra putri kami kelak. Kuatkan lah iman islamnya.
Sehatkanlah jasmani dan rohaninya. Pintarkanlah mereka menggunakan
ilmunya. Jadikanlah mereka anak-anak yang berbakti pada orang tuanya,
berguna untuk agamanya, negaranya dan orang disekelilingnya. Amiiinn
Allohuma Amiiinn.
Untuk anugerah terindah milik Allah
'Nak, aku tahu kau belum diberikan izin
dari Allah untuk turun ke rahimku. Aku percaya suatu saat Kau akan
memenuhi takdirmu menjadi buah cinta aku dan ayahmu kelak. Jangan
khawatir, ayahmu sangat menyayangiku, sangat mencintaiku. Bila kau
ada, dia akan menyayangi dan mencintaimu juga. We're missing u, baby
A.'